Pengikut

Selasa, 13 November 2012

Tugas Kelompok gue__Ekonomi Sumber Daya Alam



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG
Lahan sawah memiliki arti penting, yakni sebagai media aktivitas bercocok tanam guna menghasilkan bahan pangan pokok (khususnya padi) bagi kebutuhan umat manusia. Namun seiring perkembangan zaman dan dinamika gerak langkah pembangunan serta pertumbuhan jumlah penduduk, eksistensi lahan mulai terusik. Salah satu permasalahan yang cukup terkait dengan keberadaan tanaman padi adalah makin maraknya alih fungsi lahan tanaman padi ke tanaman lainnya. Sebagian besar alih fungsi lahan yang terjadi beralih menjadi tanaman kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit dalam 10 tahun terakhir mengalami booming dengan beberapa alasan terutama kebutuhan investasi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Dengan paradigma pertumbuhan ekonomi, pemerintah melihat bahwa perkebunan kelapa sawit mampu menyerap tenaga kerja dan menghasilkan devisa negara dari pajak.
Ekspansi perkebunan kelapa sawit pada saat ini telah meluas hampir ke semua kepulauan besar di Indonesia. BPS (2010) mengatakan konversi lahan akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit setiap tahunnya cenderung meningkat. Alih fungsi lahan pertanian sebagai akibat pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit telah menyebabkan perubahan pola tanam petani pangan, khususnya padi. Kawasan yang dahulunya adalah merupakan areal persawahan berubah menjadi areal perkebunan kelapa sawit. Pola tanam padi  yang tidak serentak akibat dampak perluasan areal tanaman keras, terutama kelapa sawit membawa resiko bagi petani yang masih bertahan di tanaman padi.
Permasalahan yang mendasar dalam ketahanan pangan adalah konversi lahan pertanian pangan. Semakin sempitnya lahan pertanian pangan yang tersedia, maka semakin sulit bagi petani untuk berproduksi secara optimal. Dampak permasalahan yang lebih luas tersebut termasuk pengaruhnya terhadap kestabilan politik yang diakibatkan oleh kerawanan pangan, perubahan sosial yang merugikan, menurunnya kualitas lingkungan hidup terutama yang menyangkut sumbangan fungsi lahan sawah kepada konservasi tanah dan air untuk menjamin kehidupan masyarakat di masa depan. Dampak dari kehilangan lahan pertanian produktif adalah kehilangan hasil pertanian secara permanen, sehingga apabila kondisi ini tidak terkendali maka dipastikan kelangsungan dan peningkatan produksi akan terus berkurang dan pada akhirnya akan mengancam kepada tidak stabilnya ketahanan pangan.
Diperkirakan minyak kelapa sawit akan menjadi komoditas yang paling banyak diproduksi, dikonsumsi dan paling banyak diperdagangkan di dunia. Alih fungsi lahan juga mengakibatkan kerugian ekologis bagi sawah di sekitarnya, antara lain hilangnya hamparan efektif untuk menampung kelebihan air limpasan yang bisa membantu mengurangi banjir. Kerugian itu masih bertambah dengan hilangnya kesempatan kerja dan pendapatan bagi petani penggarap, buruh tani, penggilingan padi, dan sektor-sektor lainnya. Pertanian tanaman padi merupakan komoditas yang paling banyak menyediakan lapangan kerja dalam sektor pertanian.

1.2.TUJUAN
·         Untuk mengetahui apakah  nilai produksi padi sawah mengalami penyusutan.
·         Untuk mengetahui dampak dari alih fungsi lahan padi sawah ke sawit.

1.3.MANFAAT
Manfaat dari alih fungsi lahan sawah ketanaman kelapa sawit yaitu, pendapatan tanaman kelapa sawit lebih tinggi dengan resiko lebih rendah, nilai jual / agunan kebun lebih tinggi, biaya produksi usahatani kelapa sawit lebih rendah dan terbatasnya ketersediaan air.










BAB II
KONSEP

Pengertian alih fungsi tanaman secara umum berarti adanya perubahan, pengubahan, penukaran penggunaan lahan, Wahyunto, dkk (2001) mengatakan perubahan penggunaan lahan dalam pelaksanaan pembangunan tidak dapat dihindari. Perubahan tersebut terjadi karena dua hal, pertama adanya keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang semakin meningkat jumlahnya dan kedua berkaitan dengan meningkatnya tuntutan akan mutu kehidupan yang lebih baik. Para ahli berpendapat bahwa perubahan-perubahan lahan lebih disebabkan oleh adanya kebutuhan dan keinginan manusia. Lahan merupakan suatu daerah yang ada di permukaan bumi yang memiliki sifat-sifat tertentu seperti geologi, atmosfer, hidrologi, vegetasi dan penggunaan lahan. Lahan merupakan kenampakan geografi yang perlu dikaji dan salah satu kegiatan pengkajiannya adalah dengan cara mengadakan observasi terhadap pemanfaatannya serta pengaruhnya bagi kehidupan manusia. Faktor-faktor yang mendorong perubahan penggunaan lahan dapat juga disebabkan oleh pengaruh politik, ekonomi, demografi dan budaya.
Selanjutnya pertumbuhan ekonomi, perubahan pendapatan dan konsumsi juga merupakan faktor penyebab perubahan penggunaan lahan. Sebagai contoh, meningkatnya kebutuhan akan ruang tempat hidup, transportasi dan tempat rekreasi akan mendorong terjadinya perubahan penggunaan lahan. Teknologi juga berperan dalam menggeser fungsi
lahan. Hal lain yang perlu dilihat dalam menilai perubahan suatu wilayah adalah transformasi struktural yang terjadi di wilayah tersebut, baik yang berkaitan dengan transformasi ekonomi, ketenagakerjaan, demografi, sosial dan budaya masyarakat. Keanekaragaman dalam kegiatan perekonomian di daerah merupakan sumber kekuatan dalam menghadapi fluktuasi ekonomi. Kalau ekonomi daerah tergantung kepada satu komoditi saja, penduduknya akan menderita lebih banyak kalau permintaan akan penghasilan itu hilang. Sebaliknya daerah yang sumber
penghasilannya luas dapat dianggap sehat dan lebih kuat ekonominya. Jika dilihat dalam skala yang lebih kecil yaitu rumah tangga, dapat dikatakan bahwa apabila rumah tangga yang tidak mengandalkan pendapatan dari satu sumber saja, maka kondisi ekonominya akan lebih sehat dan kuat dalam menghadapi fluktuasi ekonomi. Perubahan kegiatan pemanfaatan lahan yang terjadi pada populasi penelitian yaitu dari lahan tanaman padi ke perkebunan kelapa sawit merupakan suatu aktivitas masyarakat petani dalam rangka peningkatan taraf hidup. Sejalan dengan semakin berkembangnya aktivitas yang dilakukan, maka akan memberikan pengaruh yang semakin kompleks terhadap kondisi ekonomi masyarakat di daerah tersebut. Dari segi ekonomi lahan adalah merupakan suatu faktor produksi penting yang diberikan oleh alam. Sebagai faktor produksi, maka lahan tersebut sangat memegang peranan penting dalam kegiatan usaha tani. Selanjutnya manusia dalam usaha dan upaya mempertahankan kehidupannya ini tidak lagi semata tergantung pada alam melainkan dengan segala kemampuan manusia sendiri yang semakin berkembang membawa manusia pada kecenderungan memanfaatkan alam semaksimal mungkin untuk kesejahteraan hidupnya. Aktivitas manusia untuk mempertahankan hidupnya beraneka ragam sesuai dengan kemampuan dan potensi tata geografisnya.
Dijelaskan pula bahwa lahan sebagai sumber alam yang penting dalam pemanfaatannya harus memperhatikan unsur pengawetan, kesesuaian, kemampuan serta bentuk penggunaannya, agar tidak mengakibatkan kerusakan dan kerugian bagi mausia itu sendiri. Pola pemanfaatan lahan pada hakikatnya adalah hasil perpaduan antara faktor sejarah, faktor fisik, faktor sosial budaya dan ekonomi. Pola pemanfaatan lahan di suatu wilayah mencerminkan pada orientasi kehidupan masyarakat di wilayah tersebut, seperti tingkat kehidupan sosial dan ekonomi, budaya dan teknologi. Jumlah penduduk dan perubahan, penyebaran dan bidang nafkah adalah sesuatu yang merupakan faktor penentu di dalam pola maupun orientasi pemanfaatan lahan. Sifat perubahan pemanfaatan lahan secara garis besar dapat dibagi dua yaitu bersifat musiman dan permanen. Perubahan pemanfaatan lahan musiman biasanya terjadi pada lahan pertanian tanaman pangan yang juga disebut rotasi tanaman. Sebagai contoh lahan sawah pada musim penghujan digunakan untuk tanaman padi sawah dan pada musim kemarau untuk tanaman palawija. Perubahan pemanfaatan lahan musiman ini tidak hanya karena faktor musim saja, tetapi kehendak manusia juga akan menentukan perubahan pemanfaatan lahan. Sedangkan perubahan pemanfaatan lahan yang bersifat permanen yaitu perubahan pemanfaatan lahan dalam periode waktu relatif lama. Perubahan pemanfaatan lahan yang bersifat lama ini disebabkan karena faktor perubahan alam, atau karena faktor kehendak manusianya sendiri. Seperti pemanfaatan daerah pesisir pantai sebagai hutan bakau, hal ini merupakan faktor perubahan alam yang didukung kehendak manusia dengan tujuan sebagai pengaman daerah pantai dari intrusi air laut dan abrasi pantai. I.adjarajani (2001) menunjukkan bahwa alih fungsi lahan pertanian
diakibatkan perubahan kondisi sosial rumah tangga petani tersebut, yang diidentifikasikan dari adanya:
a.       Perubahan jenis mata pencaharian pokok di bidang pertanian.
b.      Penurunan konsumsi kebutuhan pokok sehari-hari keluarga.
c.       Penurunan kemampuan pemenuhan kebutuhan kesehatan keluarga.
d.      Penurunan pemenuhan kebutuhan tempat tinggal keluarga.
e.       Penurunan kemampuan pengembangan pendidikan keluarga.
f.       Penurunan kemampuan mobilitas.
Alih fungsi lahan mengakibatkan sebagian besar rumah tangga petani mengalami perubahan kondisi ekonomi rumah tangga. Alih fungsi lahan pertanian sebagai akibat dari kondisi ekonomi rumah tangga petani, dapat diidentifikasikan dari adanya:
a.       Penurunan pendapatan per bulan.
b.      Penurunan kemampuan investasi.
c.       Penurunan kemampuan modal usaha.
d.      Penurunan kemampuan menabung.
e.       Penurunan kemampuan pemasaran hasil pertanian.
f.       Penurunan akses ke lembaga keuangan.
Dengan menurunnya kemampuan pendapatan petani maka petani pada umumnya melakukan alih fungsi lahan untuk meningkatkan kemampuan pendapatan keluarga. Pemanfaatan waktu yang ada memungkinkan petani untuk memperoleh pendapatan di luar usaha tani yang ditekuninya dan menambah penghasilan pendapatan petani, sehingga keinginan petani untuk menabung semakin tinggi.
Biasanya pendapatan yang tinggi dapat meningkatkan kemampuan untuk menabung, karena semakin baik tingkat pendapatan rumah tangga petani, maka semakin besar pengeluaran untuk konsumsi non pangan dibandingkan pengeluaran konsumsi pangan. Menurut Adi (2002), alasan petani lebih memilih sub sektor perkebunan adalah karena komoditi-komoditi perkebunan dapat diekspor dan memiliki nilai komersial yang besar. Hal ini mempengaruhi minat petani untuk bertanam padi sawah, dengan kondisi pendapatan yang lebih jauh..  Sejarah kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1848, saat itu ada 4 batang bibit kelapa sawit yang dibawa dari Mauritius dan Amsterdam yang kemudian ditanam di kebun Raya Bogor. Perintis budidaya perkebunan kelapa sawit di Indonesia dilakukan oleh Adrien Hallet (berkebangsaan Belgia) pada tahun 1911, yang kemudian diikuti oleh K. Schadt budidaya perkebunan kelapa sawit ini hingga mulai berkembang di Indonesia. Di Sumatera perkebunan kelapa sawit ini mulai berkembang berlokasi di bagian Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh hingga luas areal perkebunan mencapai 5.123 Ha. Tanaman kelapa sawit hanya dapat tumbuh di daerah tropis (daerah
khatulistiwa). Tanaman kelapa sawit mempunyai beberapa keunggulan jika dibandingkan
tanaman lainnya (penghasil minyak nabati). Keunggulan tersebut dapat dilihat dari segi produktivitas minyak kelapa sawit tersebut sehingga harga produksi menjadi lebih ringan. Masa produksi kelapa sawit yang cukup panjang (hingga 25 tahun) juga akan mempengaruhi ringannya biaya produksi yang akan dikeluarkan petani. Dari segi hama dan penyakit tanaman kelapa sawit termasuk tanaman yang tahan terhadap hama dan penyakit jika dibandingkan dengan tanaman lainnya. Selain itu jika dilihat dari kebutuhan konsumsi orang terhadap minyak kelapa sawit hingga mencapai ratarata 25 kg/tahun. Sampai saat ini tanaman kelapa sawit merupakan salah satu sub sektor penyumbang devisa non migas yang terbesar karena minyak sawit dan inti sawitnya telah di ekspor ke luar negeri sehingga saat sekarang tanaman kelapa sawit merupakan primadona bagi masyarakat Indonesia. Dengan begitu baiknya prospek kelapa sawit tersebut telah mendorong pemerintah untuk memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit tersebut.






















BAB III
METODE

Dalam perspektif ekonomi sumberdaya lahan dikenal istilah “land rent”, Suatu bidang lahan, paling tidak mengandung empat fungsi rent (Nasrudin dan rustiadi, 1990) yaitu fungsi kualitas dan kelangkaan, fungsi aksesibilitas, fungsi ekologi, dan fungsi sosial. Terkait dengan alih fungsi lahan, maraknya fenomena ini merupakan dampak dari makin tinggi dan
bertambahnya tekanan kebutuhan dan permintaan terhadap lahan. Dalam perspektif makro Kustiawan 1997 dalam Iqbal, 2007), genomena alih fungsi lahan terjadi akibat transformasi struktural perekonomian dan demografis, khususnya di Negara-negara berkembang. Transformasi struktural perekonomian berlangsung dari semula bertumpu pada pertanian bergeser menjadi industri, sementara transformasi geografis terjadi akibat pertumbuhan penduduk perkotaan bergeser ke pedesaan sehingga alih fungsi lahan pertanian bergeser ke  non pertanian/bangunan.  Fenomena yang terjadi di Bengkulu adalah bergesernya penggunaan lahan pangan ke perkebunan khususnya kelapa sawit dan karet. Berdasarkan fenomena dan gambaran tersebut maka perlu dilakukan analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi petani melakukan alih fungsi lahan yang digarapnya. Data yang diambil terdiri dari data primer dn sekunder. Data primer diambil dari petani di desa Kungkai Baru Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma, dengan pertimbangan bahwa di daerah ini masyarakat telah melakukan konversi lahan tanaman pangan (padi dan jagung) menjadi tanaman kelapa sawit. Survei dilakukan di Gapoktan Tri Manunggal pada bulan Juli 2011, jumlah petani satu kelompok tani yang seluruhnya telah melakkukan alih fungsi lahan jagung dan padi ke kelapa sawit. Data sekunder diambil dari Desa, Dinas Pertanian Kabupaten Seluma, BPS Seluma. Pengumpulan data melalui Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan pengurus gapoktan, petani, dan wanita tani. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Analysis Hierarchy Process (AHP) untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keputusan petani melakukan konversi lahan dari tanaman pangan ke tanaman perkebunan.
Teknik penilaian manfaat sumberdaya lahan berdasarkan kriteria yang menggambarkan karakteristik setiap jenis nilai, baik nilai guna langsung, nilai guna tidak langsung, nilai pilihan dan nilai keberadaan. Untuk metode penilaian nilai guna langsung terdiri atas :
1.      Nilai manfaat sosial bersih 
Metode ini menggunakan data demand dan supply yang lengkap secara series sehingga dapat disusun kurva supply dan demand untuk menentukan nilai barang berdasarkan perpotongan kedua kurva tadi sebagai harga keseimbangan.
2.      Harga pasar
Metode ini digunakan untuk barang atau jasa lahan yang memiliki harga pasar. Data yang diperlukan adalah harga dan jumlah setiap jenis barang/jasa lahan. Menurut Davis dan Johnson (1983) metode fakta pasar dan nilai kini bersih termasuk dalam teknik penilaian ini. Metode nilai kini bersih mencoba untuk menghitung nilai saat ini dari hasil penggunaan lahan.
3.      Harga pengganti
Metode ini terdiri dari beberapa teknik :
a.       Harga subtitusi. Nilai barang/jasa hutan yang tidak memiliki harga pasar didekati dari harga barang subtitusinya.
b.      Harga subtitusi tidak langsung. Untuk barang subtitusi yang tidak ada harga pasarnya, maka nilai barang didekati dari harga penggunaan lain dari barang subtitusi.
c.       Biaya oportunitas tidak langsung. Nilai barang/jasa lahan didekati dari faktor biaya pengadaannya (khususnya upah).
d.      Nilai tukar perdagangan. Harga barang/jasa lahan didekati dari nilai pertukaran dengan barang yang ada harganya.
e.       Biaya relokasi. Nilai barang/jasa lahan didekati dari biaya pemindahan ke tempat lain dimana manfaat penggunaan dapat digantikan di tempat baru.
4.      Biaya perjalanan.
Metode ini biasa digunakan untuk menghitung nilai lahan. Modifikasi dari metode ini adalah biaya pengadaan yang bisa digunakan untuk menghitung nilai air berdasarkan biaya besarnya biaya pengadaan sampai air tersebut dikonsumsi (Bahruni, 1999).
5.      Nilai dalam proses produksi
Teknik ini digunakan untuk menilai barang/jasa lahan yang merupakan input dalam produksi suatu barang. 





BAB IV
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

4.1. KESIMPULAN
Alih fungsi lahan tanaman pangan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit di Desa Kungkai Baru karena faktor-faktor ekonomis (58,4%), lingkungan (22,2%), dan teknis (19,4%).
4.2.REKOMENDASI
Rekomendasi tentang metode yang tepat untuk digunakan pada alih fungdi lahan padi ke tanaman sawit adalah metode CVM. Menurut Hanley dan Spash (1993) kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh pendekatan CVM dalam memperkirakan nilai ekonomi suatu lingkungan adalah sebagai berikut :
·         Dapat diaplikasikan pada semua kondisi dan memiliki dua hal penting, yaitu seringkali menjadi satu-satunya teknik untuk mengestimasi manfaat dan dapat diaplikasikan pada berbagai konteks kebijakan lingkungan.
·         Dapat digunakan dalam berbagai macam penelitian barang-barang lingkungan di sekitar masyarakat.
·         Dibandingkan dengan teknik penilaian lingkungan lainnya, CVM memiliki kemampuan untuk mengestimasi nilai non pengguna. Dengan CVM, seseorang mungkin dapat mengukur utilitas dari penggunaan barang lingkungan bahkan jika tidak digunakan secara langsung. Meskipun teknik dalam CVM membutuhkan analis yang kompeten, namun hasil penelitian dari peneliti yang menggunakan metode ini tidak sulit untuk dianalisis dan dijabarkan.









DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2011. Konversi Lahan Sawah di Bengkulu memprihatinkan. Bisnis Indonesia, Selasa, 22 Febuari 2011, halaman i6.
BPS Provinsi Bengkulu. Provinsi Bengkulu Dalam Angka 2010. BPS Provinsi Bengkulu.
Hidayat, A. 2007. Peta Kesesuaian Lahan dan Peta Arahan Tata Ruang Pertanian. Warta Sumberdaya Lahan Vol. 3 No. 3 Desember 2007. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Bogor.
Irawan, B. 2005. Konversi Lahan Sawah menimbulkan Dampak Negatif bagi Ketahanan Pangan dan Lingkungan. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol. 27 No. 6 tahun 2005. Pusat Analisis SosialEkonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor.
Iqbal.M. 2007, Alih Fungsi Lahan Sawah dan Strategi Pengendaliannya di Sumatera Selatan,
ICASEPS working paper no.92, Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Bogor.
Kurdianto, D. 2011. Alih Fungsi Lahan Pertanian ke Tanaman Kelapa Sawit. http://uripsantoso.wordpress.com

2 komentar:

  1. Bet of the day: How to make money from betting shops
    One of the reasons I've become a millionaire is because I make money from the betting shops. For 카지노 me the หาเงินออนไลน์ reason is because I make kadangpintar money

    BalasHapus
  2. A casino with slot machines - Dr.MCD
    The 김제 출장마사지 Borgata Hotel Casino & 의정부 출장마사지 Spa is the hotel's flagship 광양 출장마사지 resort with slot 수원 출장샵 machines and a wide variety of table games. With slots, craps, roulette, 군포 출장샵

    BalasHapus