BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
LATAR BELAKANG
Sumberdaya hutan (SDH) Indonesia menghasilkan berbagai manfaat
yang dapat dirasakan pada tingkatan lokal, nasional, maupun global. Manfaat
tersebut terdiri atas manfaat nyata yang terukur (tangible) berupa hasil
hutan kayu, hasil hutan non kayu seperti rotan, bambu, damar dan lain-lain,
serta manfaat tidak terukur (intangible) berupa manfaat perlindungan
lingkungan, keragaman genetik dan lain-lain. Saat ini berbagai manfaat yang
dihasilkan tersebut masih dinilai secara rendah sehingga menimbulkan terjadinya
eksploitasi SDH yang berlebih. Hal tersebut disebabkan karena masih banyak
pihak yang belum memahami nilai dari berbagai manfaat SDH secara komperehensif.
Untuk memahami manfaat dari SDH tersebut perlu dilakukan penilaian terhadap
semua manfaat yang dihasilkan SDH ini. Penilaian sendiri merupakan upaya untuk
menentukan nilai atau manfaat dari suatu barang atau jasa untuk kepentingan
manusia.
Dengan diketahuinya manfaat dari SDH ini maka hal tersebut dapat
dijadikan rekomendasi bagi para pengambil kebijakan untuk mengalokasikan
sumberdaya alam (SDA) yang semakin langka dan melakukan distribusi manfaat SDA
yang adil. Terlebih dengan meningkatnya pertambahan penduduk saat ini yang
menyebabkan timbulnya tekanan yang serius terhadap SDH, menyebabkan perlunya
penyempurnaan pengelolaan SDA melalui penilaian akurat terhadap nilai ekonomi
sumberdaya alam yang sesungguhnya.
Manfaat SDH sendiri tidak semuanya memiliki harga pasar, sehingga
perlu digunakan pendekatan-pendekatan untuk mengkuantifikasi nilai ekonomi SDH
dalam satuan moneter. Sebagai contoh manfaat hutan dalam menyerap karbon, dan
manfaat ekologis serta lingkungan lainnya. Karena sifatnya yang non market tersebut
menyebabkan banyak manfaat SDH belum dinilai secara memuaskan dalam perhitungan
ekonomi. Tetapi saat ini, kepedulian akan pentingnya manfaat lingkungan semakin
meningkat dengan melihat kondisi SDA yang semakin terdegradasi. Untuk itu
dikembangkan berbagai metode dan teknik penilaian manfaat SDH, baik untuk manfaat
SDH yang memiliki harga pasar ataupun tidak, dalam satuan moneter. Tulisan ini
dibuat dengan tujuan untuk menjelaskan konsep nilai ekonomi total dan berbagai
metode yang digunakan untuk menilai manfaat SDH dan lingkungan.
1.2.
KONSEP DAN PENGGUNAAN METODE
Konsep
penilaian Sumberdaya Hutan diantaranya dikemukakan
oleh Bockstael (2000), nilai ekonomi suatu fungsi ekosistem atau jasa berkaitan dengan kontribusinya untuk
mensejahterakan manusia, dimana kesejahteraan
itu diukur dalam artian
masing-masing individu mempunyai penilaiannya sendiri terhadap kehidupan yang lebih baik. konsep
ekonomi untuk menilai sumberdaya alam dapat diketahui dari keinginan setiap
individu untuk membayar (individual
willingness to pay) dari selera (taste)
dan preferensi (preferences ) atas
barang dan jasa yang dikonsumsi. Agregat jumlah nilai-nilai individu menjadi
nilai social dari sumberdaya hutan. Dengan demikian konsep penilaian ekonomi
sumberdaya hutan adalah upaya untuk memberikan nilai yang komprehensif terhadap
sumberdaya hutan baik yang tersedia dipasar dalam arti diperjualbelikan maupun
yang tidak dapat dipasarkan (non
marketable) dalam satuan moneter.
Menurut
Pearce,et al (1994), Willingness to pay (WTP) atau kesediaan
untuk membayar merupakan kesediaan individu untuk membayar suatu kondisi
lingkungan (penilaianterhadap sumberdaya alam dan jasa alami) dalam rangka
memperbaiki kualitas lingkungan. Dalam WTP dihitung seberapa jauh kemampuan
setiap individu atau masyarakat untuk membayar ataumengeluarkan uang dalam rangka
memperbaiki kondisi lingkungan sesuai dengan standar yangdiinginkannya.
Kesediaan membayar ini didasarkan atas pertimbangan biaya dan manfaat yang
akandiperoleh konsumen tersebut. Dalam hal ini WTP merupakan nilai kegunaan
potensial darisumberdaya alam dan jasa lingkungan. Menurut Hanley dan Spash
(1993), penghitungan WTP dapatdilakukan secara langsung (direct method) dengan
melakukan survey, dan secara tidak langsung (indirect method ), yaitu
penghitungan terhadap nilai dari penurunan kualitas lingkungan yang telah
terjadi.
Metode
Valuasi Kontingen (Contingent Valuation Method ) adalah metode teknik
survei untuk menyatakan penduduk tentang nilai atau harga yang mereka
berikanterhadap komoditi yang tidak memiliki pasar seperti barang lingkungan.
Prinsip yang mendasarimetode ini adalah bahwa orang yang mempunyai preferensi
yang besar tetapi tersembunyi terhadapseluruh jenis barang lingkungan, kemudian
diasumsikan bahwa orang akan bertindak nantinya sepertiyang dia katakana ketika
suatu hipotesis yang disodorkan kepadanya akan menjadi kenyataan padamasa yang
akan datang (Yakin, 1997).
Penilaian
ekonomi sumberdaya yang tidak dapat dipasarkan (non-market valuation)
dapat digolongkan ke dalam dua kelompok, yaitu: 1) revealed preference
approach merupakan teknik penilaian yang mengandalkan harga implisit di
mana Willingness to Pay terungkap melalui model yang dikembangkan,
meliputi: Travel Cost, Hedonic Pricing, dan Random Utility Model. 2)
stated preference approach merupakan teknik penilaian yang didasarkan pada
survei di mana keinginan membayar atau Willingness to Pay diperoleh dari
responden, meliputi: Contingent Valuation, Random Utility Model,
dan Contingent Choice. Menurut Yakin (1997), Contingent Valuation
Method (CVM) merupakan metode yang popular digunakan saat ini, karena CVM
dapat mengukur nilai penggunaan (use value) dan nilai non pengguna (non
use values) dengan baik.
1.3.
KEGUNAAN DALAM BIDANG STUDI
a. Dapat
diaplikasikan pada semua kondisi dan memiliki dua hal penting, yaitu seringkali
menjadi satu-satunya teknik untuk mengestimasi manfaat dan dapat diaplikasikan
pada berbagai konteks kebijakan lingkungan.
b. Dapat
digunakan dalam berbagai macam penelitian barang-barang lingkungan di sekitar
masyarakat.
c. Dibandingkan
dengan teknik penilaian lingkungan lainnya, CVM memiliki kemampuan untuk
mengestimasi nilai non pengguna. Dengan CVM, seseorang mungkin dapat mengukur
utilitas dari penggunaan barang lingkungan bahkan jika tidak digunakan secara
langsung. Meskipun teknik dalam CVM membutuhkan analis yang kompeten, namun
hasil penelitian dari peneliti yang menggunakan metode ini tidak sulit untuk
dianalisis dan dijabarkan.
1.4.
TUJUAN DAN MANFAAT METODE
Tulisan ini dibuat dengan tujuan untuk menjelaskan konsep nilai
ekonomi total dan berbagai metode yang digunakan untuk menilai manfaat SDH dan
lingkungan. Metode CVM sering digunakan untuk mengukur nilai
pasif sumber daya alam atau sering juga dikenal dengan nilai keberadaaan.
Metode CVM pada dasarnya bertujuan untuk mengetahui keinginan membayar (Willingness
To Pay) dari masyarakat terhadap perbaikan lingkungan dan keinginan
menerima kompensasi (Willingness To Accept) dari kerusakan lingkungan
(Fauzi, 2006).
BAB II
APLIKASI
2.1. DEVISI
CVM
(Contingent Cost Method) adalah penilaian kesediaan masyarakat menyumbang untuk
mempertahankan atau mengembalikan berbagai fungsi pertanian. Valuasi kontingen
merupakan metode mengestimasi nilai yang diberikan oleh individu terhadap suatu
barang atau jasa. Penilaian dengan menggunakan teknik CVM dilakukan untuk
fungsi barang atau jasa yang tidak ada dalam struktur pasar (non-marketed goods
and service). Barton (1994) menyebutkan bahwa CV digunakan pada kondisi dimana
masyarakat tidak mempunyai preferensi terhadap suatu fungsi barang karena tidak
ada dalam pasar. Contoh : mengestimasi nilai fungsi ameniti ekosistem terumbu
karang (non-marketed goods).
Menurut
Fauzi (2006), Metode CVM ini secara teknis dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
tekniseksperimental melalui simulasi dan teknik survei. Metode CVM sering
digunakan untuk mengukurnilai pasif sumber daya alam atau sering juga dikenal
dengan nilai keberadaaan. Metode CVM padadasarnya bertujuan untuk mengetahui
keinginan membayar dari masyarakat terhadap perbaikanlingkungan dan keinginan
menerima kompensasi dari kerusakan lingkungan.
Metode penilaian manfaat hutan pada dasarnya dibagi dalam dua
kelompok yaitu metode atas dasar pasar dan metode pendekatan terhadap pasar
yaitu pendekatan terhadap kesediaan membayar. Metode pendekatan terhadap pasar
ini oleh beberapa ahli ekonomi telah dikembangkan dan diaplikasikan untuk
menilai manfaat hutan yang tidak memiliki harga pasar dalam satuan moneter.
Metode ini mencoba untuk menggambarkan permintaan konsumen, sebagai contoh
kesediaan membayar konsumen (willingness
to pay-WTP) terhadap manfaat hutan yang tidak memiliki harga pasar dalam
satuan moneter, atau kesediaan menerima konsumen (willingness to accept –
WTA) terhadap kompensasi yang diberikan kepada konsumen untuk manfaat yang
hilang dalam satuan moneter.
2.2.
KONSEP DAN PEMAKAIAN VARIABEL
a. Membuat
Pasar Hipotetik
Tahap
awal dalam menjalankan CVM adalah membuat pasar hipotetik. Pasar hipotetik
tersebut dibangun untuk memberikan suatu alasan mengapa masyarakat seharusnya
membayar terhadap suatu barang/jasa lingkungan dimana tidak terdapat nilai
dalam mata uang berapa harga barang/jasa lingkungan tersebut. Dalam pasar
hipotetik harus menggambarkan bagaimana mekanisme pembayaran yang dilakukan. Skenario
kegiatan harus diuraikan secara jelas dalam kuisioner sehingga responden dapat
memahami barang lingkungan yang dipertanyakan serta keterlibatan masyarakat
dalam rencana kegiatan. Selain itu, di dalam kuisioner juga perlu dijelaskan
perubahan yang akan terjadi jika terdapat keinginan masyrakat membayar.
b. Mendapatkan
Penawaran Besarnya Nilai WTP
Penawaran
besarnya nilai WTP dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Setelah itu
dilakukan kegiatan pengambilan sampel. Hal ini dapat dilakukan melalui wawancara
dengan tatap muka, dengan perantara telepon, atau surat.
c. Memperkirakan
Nilai Tengah dan Nilai Rata-Rata WTP
Setelah
data mengenai nilai WTP terkumpul, tahap selanjutnya adalah menghitung nilai
tengah (median) dan nilai rata-rata (mean) dari WTP tersebut.
Nilai tengah digunakan apabila terjadi rentang nilai penawaran yang terlalu
jauh. Jika penghitungan nilai penawaran menggunakan rata-rata, maka akan
diperoleh nilai yang lebih tinggi dari yang sebenarnya. Oleh karena itu, lebih
baik menggunakan nilai tengah karena nilai tengah tidak dipengaruhi oleh
rentang penawaran yang cukup besar. Nilai tengah penawaran selalu lebih kecil
daripada nilai rata-rata penawaran.
d. Memperkirakan
Kurva WTP
Suatu
kurva WTP dapat diperkirakan dengan menggunakan nilai WTP sebagai variabel
dependen dan faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tersebut sebagai variabel
independen. Kurva WTP ini dapat digunakan untuk memperkirakan perubahan nilai
WTP karena perubahan sejumlah variabel independen yang berhubungan dengan mutu
lingkungan. Hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dapat
berkorelasi linier dengan bentuk persamaan umum sebagai berikut :
WTPi = f(Yi, Ei, Ki, Ai, Qi)
dimana i adalah responden ke-i.
e. Menjumlahkan
Data
Penjumlahan
data merupakan proses dimana rata-rata penawaran dikonversikan terhadap total
populasi yang dimaksud. Bentuk ini sebaiknya termasuk seluruh komponen dari
nilai relevan yang ditemukan seperti nilai keberadaan dan nilai penggunaan.
f. Mengevaluasi
Penggunaan CVM
Pada
tahap ini dilakukan penilaian sejauh mana penerapan CVM telah berhasil
dilakukan. Penilaian tersebut dilakukan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan
seperti apakah responden benar-benar mengerti dan memahami mengenai pasar
hipotetik, berapa banyak kepemilikan responden terhadap barang/jasa lingkungan
yang terdapat dalam pasar hipotetik, seberapa baik pasar hipotetik yang dibuat
dapat mencakup semua aspek barang/jasa lingkungan, asumsi apa yang diperlukan
untuk menghasilkan nilai tengah dan menggambarkan nilai tawaran agregat, dan
pertanyaan sejenis lainnya.
2.3.
KERANGKA PEMIKIRAN
Kerangka
pemikiran terdiri dari beberapa teori yang digunakan dalam penelitian.
Penelitian ini menggunakan teori-teori yang sesuai dengan tujuan penelitian
yang hendak dicapai yaitu Contingent Valuation Method (CVM), regresi
linier berganda, dan instrumen ekonomi.
BAB III
LOKASI YANG DIPAKAI
3.1.
LOKASI
Penelitian mengenai “Konsep Nilai Ekonomi Total Dan Metode Penilaian Sumberdaya Hutan” ini berlokasi di Bogor.
3.2.
METODE
Kajian ini
merupakan hasil kajian desk study yaitu dengan melakukan pengumpulan
data dengan cara studi literatur melalui pengumpulan berbagai referensi yang
memuat berbagai konsep dan teori mengenai nilai ekonomi total sumber daya alam
dan metode penilaian sumber daya hutan. Data yang terkumpul dianalisis secara
kualitatif untuk mengklasifikasikan teori yang berkaitan dengan nilai ekonomi
total dan metode penilaian sumber daya hutan.
3.3.HASIL
Nilai merupakan persepsi manusia tentang makna suatu objek
(sumberdaya hutan) bagi individu tertentu pada tempat dan waktu tertentu. Oleh
karena itu akan terjadi keragaman nilai sumberdaya hutan berdasarkan pada
persepsi dan lokasi masyarakat yang berbeda-beda. Nilai sumberdaya hutan
sendiri bersumber dari berbagai manfaat yang diperoleh masyarakat. Masyarakat
yang menerima manfaat secara langsung akan memiliki persepsi yang positif
terhadap nilai sumberdaya hutan, dan hal tersebut dapat ditunjukkan dengan
tingginya nilai sumberdaya hutan tersebut. Hal tersebut mungkin berbeda dengan
persepsi masyarakat yang tinggal jauh dari hutan dan tidak menerima manfaat
secara langsung. Nilai sumberdaya hutan ini dapat diklasifikasi berdasarkan
beberapa kelompok. Davis dan Johnson (1987) mengklasifikasi nilai berdasarkan
cara penilaian atau penentuan besar nilai dilakukan, yaitu : (a) nilai pasar,
yaitu nilai yang ditetapkan melalui transaksi pasar, (b) nilai kegunaan, yaitu
nilai yang diperoleh dari penggunaan sumberdaya tersebut oleh individu
tertentu, dan (c) nilai sosial, yaitu nilai yang ditetapkan melalui peraturan,
hukum, ataupun perwakilan masyarakat. Sedangkan Pearce (1992) dalam Munasinghe
(1993) membuat klasifikasi nilai manfaat yang menggambarkan Nilai Ekonomi Total
(Total Economic Value) berdasarkan cara atau proses manfaat tersebut
diperoleh.
3.4. KESIMPULAN
Konsep nilai ekonomi total dan metode penilaian ekonomi mencoba
untuk memberikan “nilai” terhadap seluruh manfaat yang dihasilkan hutan baik
yang bersifat diperdagangkan dan memiliki harga pasar maupun yang tidak
memiliki harga pasar. Hal tersebut sangat dibutuhkan mengingat masalah yang
timbul pada saat pengambil kebijakan berusaha untuk menyeimbangkan antara dua
tujuan dalam pengelolaan hutan yaitu manfaat produksi dan manfaat lingkungan,
membutuhkan suatu dasar dan rekomendasi untuk menentukan alokasi sumberdaya
alam yang adil.
Teknik penilaian ekonomi, khususnya untuk penilaian manfaat barang
dan jasa hasil hutan non kayu yang tidak memiliki harga pasar dalam satuan
moneter ini, sangat membantu dalam perumusan kebijakan pengelolaan hutan dan
sistem pengelolaan hutan. Karakteristik manfaat hutan yang spesifik ini
membutuhkan pendekatan teknik penilaian yang berbeda dengan manfaat hutan yang
memiliki harga pasar dan diperdagangkan. Terakhir, dengan diketahuinya nilai
ekonomi total dari sumberdaya hutan, diharapkan akan menciptakan pemanfaatan
sumberdaya hutan yang lebih efisien karena manfaat hutan telah diperhitungkan
secara memuaskan dalam perhitungan ekonomis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar